Evolusi Bau Badan
kenapa keringat kita tidak berbau tapi bakteri di ketiak yang membuatnya jadi masalah
Pernahkah kita masuk ke dalam lift yang penuh sesak di siang bolong, lalu tiba-tiba tercium aroma menyengat yang membuat kita otomatis menahan napas? Atau lebih parah lagi, saat kita sedang presentasi penting, keringat dingin bercucuran, dan kita mulai panik memikirkan, "Aduh, bau badan saya kecium orang nggak, ya?" Tenang, teman-teman. Kita semua pernah berada di posisi itu. Perasaan malu dan cemas soal bau badan adalah pengalaman universal manusia modern. Tapi, ada satu fakta ilmiah yang mungkin akan membuat kita sedikit terkejut. Sebenarnya, keringat kita itu sama sekali tidak berbau. Ya, setetes keringat yang keluar dari dahi atau ketiak kita pada dasarnya hanyalah air, garam, dan beberapa senyawa dasar. Murni. Tidak beraroma. Lalu, pertanyaannya, dari mana datangnya bau tengik yang sering bikin kita tidak percaya diri itu? Jawabannya ternyata membawa kita pada sebuah kisah evolusi yang jauh lebih rumit, dan jujur saja, sedikit menjijikkan tapi sangat menakjubkan.
Sebelum kita membahas biang keroknya, mari kita mundur sejenak. Secara psikologis dan historis, manusia punya hubungan yang sangat unik dengan aroma tubuh. Sejak zaman Mesir Kuno, kita sudah berusaha menutupi aroma alami kita dengan berbagai minyak wangi dan rempah. Kita dikondisikan oleh masyarakat untuk percaya bahwa tubuh yang bersih adalah tubuh yang wangi bunga atau musk sintetik. Namun, secara biologis, tubuh kita sebenarnya dilengkapi dengan dua jenis kelenjar keringat utama. Pertama adalah kelenjar ekrin. Kelenjar ini tersebar di hampir seluruh tubuh kita. Tugasnya sederhana: mendinginkan mesin tubuh saat kita kepanasan. Keringat dari kelenjar ekrin inilah yang mayoritas berisi air dan tidak berbau. Kalau memang sistem pendingin tubuh kita sedemikian bersih, kenapa alam semesta (atau evolusi) memutuskan untuk menambahkan "fitur" bau badan pada manusia? Untuk menjawabnya, kita harus menengok ke area lipatan tubuh kita yang paling rahasia.
Mari kita perhatikan ketiak kita. Area ini gelap, hangat, dan lembap. Secara biologis, ini adalah real estat paling premium bagi makhluk mikro. Di area inilah kelenjar keringat jenis kedua berada, yaitu kelenjar apokrin. Berbeda dengan kelenjar ekrin yang aktif sejak kita bayi, kelenjar apokrin baru mulai menyala saat kita memasuki masa pubertas. Ini menjelaskan kenapa anak kecil yang berkeringat setelah berlarian di taman tidak bau ketiak, sementara remaja yang baru selesai pelajaran olahraga bisa mengubah aroma seisi kelas. Keringat yang dikeluarkan oleh kelenjar apokrin sangat berbeda. Teksturnya lebih kental dan kaya akan protein serta lipid (lemak). Tapi ingat fakta di awal tadi: keringat apokrin ini, saat baru keluar dari pori-pori, juga tidak berbau. Nah, di sinilah misterinya semakin menebal. Kalau keringatnya tidak bau, dan ketiak hanyalah area lipatan biasa, apa yang sebenarnya meledakkan bom aroma tersebut? Mengapa tubuh kita repot-repot memproduksi cairan kental berprotein tinggi ini di tempat yang tersembunyi?
Bersiaplah untuk kenyataan yang sedikit brutal. Bau badan kita bukanlah produksi tubuh kita sendiri. Bau itu adalah hasil dari pesta pora miliaran bakteri yang hidup menetap di ketiak kita. Teman-teman, perkenalkan "tamu tak diundang" kita: bakteri dari kelompok Corynebacterium dan Staphylococcus. Ketika kelenjar apokrin memproduksi keringat kental tadi, bakteri-bakteri ini melihatnya sebagai hidangan prasmanan kelas atas. Mereka melahap protein dan lemak dari keringat kita dengan rakusnya. Setelah makan, tentu saja mereka harus membuang sisa pencernaan. Ya, betul sekali. Bau badan yang tajam itu pada dasarnya adalah gas buangan atau kotoran dari bakteri. Istilah ilmiahnya adalah thioalcohols. Hanya butuh setetes kecil thioalcohols untuk membuat hidung kita mengernyit. Lalu, kenapa evolusi mempertahankan sistem aneh ini? Di masa lalu, sebelum ada parfum dan sabun, aroma hasil fermentasi bakteri ini sebenarnya adalah kartu identitas kimiawi kita. Leluhur purba kita menggunakan aroma unik ini untuk mengenali anggota keluarga, membangun ikatan sosial, dan bahkan secara tidak sadar memilih pasangan hidup yang memiliki sistem imun berbeda agar keturunannya lebih kuat.
Mengetahui semua ini seharusnya bisa sedikit mengubah cara kita memandang tubuh kita sendiri. Saat kita mencium bau badan, baik milik sendiri maupun orang lain, kita pada dasarnya sedang menyaksikan proses biologi kuno yang usianya jutaan tahun. Tentu saja, di era modern ini, kita tetap butuh deodoran demi kenyamanan sosial dan empati terhadap hidung orang di sekitar kita. Tidak ada yang salah dengan menjaga kebersihan. Namun, rasa malu atau insecurity berlebihan soal bau badan rasanya bisa mulai kita kurangi. Kita bukanlah makhluk yang kotor. Tubuh kita hanyalah ekosistem yang hidup, sebuah tempat bertemunya genetika manusia dan mikrobioma yang sangat kompleks. Jadi, kelak jika teman-teman merasa cemas karena lupa memakai antiperspiran, tarik napas dalam-dalam. Ingatlah bahwa itu bukan murni salah kita. Itu hanyalah bakteri-bakteri kecil di ketiak kita yang sedang asyik menikmati makan siang mereka.